Sunday, February 9, 2014

Cerita Proyek Bahan Bakar Minyak Jarak yang Gagal Total


Sukabumi -Pada 21 Februari 2007 atau 7 tahun lalu di Desa Tanjung Harjo, Ngaringan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah ditetapkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai lokasi pencanangan Desa Mandiri Energi (DME). Kini apa hasilnya? Apakah akan terulang dengan tanaman Kemiri Sunan?

Dalam program tersebut terdapat 1.200 hektar kebun jarak pagar yang tersebar di berbagai desa di Kabupaten Grobogan, yang dikembangkan menjadi basis pengembangan DME. Sejumlah BUMN terlibat sebagai pembinanya, antara lain Perum Perhutani dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI).

Namun kini, jarak pagar di sana hampir seperti tanaman liar, tidak berarti lagi dan tidak dimanfaatkan sebagai biodiesel. Apa sebenarnya yang membuat program bahan bakar nabati (BBN) jarak pagar gagal total?

Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESD, Dadan Kusdiana mengatakan, program jarak pagar gagal karena masalah tata niaganya.

"Para petani di sana (Grobogan) hanya memproduksi biji jarak pagar dalam skala sangat kecil sekali, per petani hanya produksi 5-10 kg sebulan, padahal untuk bisa ekonomi dan dikirim ke pabrik biodiesel butuhnya 50 ton sehari, 50.000 ton setahun, tapi yang tersedia kecil sekali," ujar Dadan ditemui Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar Pakuwon, Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (9/2/2014).

Dadan mengungkapkan antara jarak pagar dengan kemiri sunan yang saat ini sedang didorong pemerintah, hampir sama, karena bisa menghasilkan biodiesel.

"Tapi kelihatannya kemiri sunan lebih unggul, karena lebih tahan lama, buahnya banyak, usianya panjang, dan banyak lagi keunggulannya," ujar Dadan

Ia mengakui, agar tidak terulang lagi proyek BBN nasib kemiri sunan seperti jarak pagar, metodenya diubah. Yaitu jarak pagar langsung ke petani, kali ini mulai dari perusahaan.

"Makanya kita hati-hati, jangan terlalu optimistis, kita mulai pelan-pelan, kita gandeng perusahaan swasta dan BUMN untuk tanam kemiri sunan. Yang jelas pasarnya ada, siap menyerap, harganya juga diperkirakan lebih murah dibandingkan dengan solar, apalagi solar kita impor," ucapnya.

Pengembangan kemiri sunan secara nyata kini sudah mulai tahap nyata seperti di Jawa Timur.


"Saat ini di Jawa Timur sudah ada perusahaan yang menanam 600 hektar kemiri sunan, mereka kerjasama dengan masyarakat, dana pemupukan dan pemeliharaan dia berikan ke petani, setelah panen, petani jual hasilnya ke perusahaan," tutupnya.

No comments:

Post a Comment