Sunday, February 9, 2014

SALAH BESAR !! SBY menerima penghargaan Honoris Doctoral dari Nanyang Technological University Singapur

Oleh: Ferdiansyah Rivai

Sabtu kemarin, melalui website Sekretaris Kabinet, Dr. Teuku Faizarsyah, Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional merilis berita berikut “Presiden SBY akan menerima penganugerahan gelar Honoris Doctoral (Doctor of Letters) dari Nanyang Technological University (NTU). Penganugerahan ini merupakan pengakuan dari dunia akademis di Singapura atas kemajuan Indonesia di berbagai bidang di bawah kepemimpinan Presiden SBY. Selain itu, Penganugerahan gelar tersebut juga dikaitkan dengan kontribusi Presiden SBY tidak hanya bagi penguatan hubungan dan kerjasama Indonesia-Singapura tetapi juga bagi perdamaian, stabilitas dan kemajuan di kawasan dan di dunia internasional”.

Jika saja bukan Nanyang Technological University (NTU) yang memberikan gelar, mungkin berita ini tidak akan terhighlight sedemikian rupa di pikiran saya. Mungkin saya hanya akan sedikit tersenyum getir. Mungkin juga sedikit bangga karena ada institusi pendidikan tinggi yang menilai Presiden Indonesia berprestasi dan memiliki kontribusi bagi dunia internasional. Dan setelah itu ya sudah, cukup. Namun kali ini beda, ada seutas pikiran saya yang terusik.

Siapa David Hartanto? (Menolak Lupa)

Saya harap kita semua memiliki ingatan yang baik. Pada medio 2009, Indonesia pernah digegerkan oleh kabar kematian seorang anak bangsa yang sangat cemerlang bernama David Hartanto, mahasiswa Fakultas Teknik NTU yang pernah mewakili Indonesia di Olimpiade Matematika Internasional. Ia diberitakan meninggal bunuh diri dengan melompat dari lantai 4 gedung kampus NTU setelah menusuk Profesor pembimbing Final Year Project (semacam skripsi) nya. Umumnya media massa memberitakan David terkena depresi akibat pemutusan beasiswa dari ASEAN, padahal penelitiannya membutuhkan biaya besar dan masih membutuhkan waktu yang cukup lama.

Kematian David menimbulkan polemik besar yang sampai saat ini menurut saya belum memiliki kejelasan. Beberapa pihak lain menilai kematian David lebih terkesan karena dibunuh daripada bunuh diri. Ini ada kaitan dengan penelitiannya yang sarat akan nilai keekonomian.

Sebelum kematiannya, David sedang menggarap penelitian berjudul Multiview Acquisition from Multi-camera Configuration for Person Adaptive 3D Display. Hasil penelitian David dinilai akan menghasilkan suatu metode yang dapat digunakan untuk membuat aplikasi multi kamera yang mampu menghasilkan gambar 3 Dimensi yang bisa tayang di udara. Aplikasi ini sangat berguna misalkan untuk kebutuhan intelijen di mana sosok orang digital bisa diprogram masuk ke ruang tertentu dipantau melalui kamera CCTV dan gerakannya dipandu pemindai gerak (motion capture). Gambar visual ini mampu mengirim data, suara, layaknya manusia sesungguhnya yang sedang kita perintah bekerja. Aplikasi ini juga berguna bagi televisi masa depan, di mana kita dapat menonton tayangan 3 Dimensi tanpa kacamata khusus. Aplikasi ini pun dapat diterapkan pada layanan-layanan commercial public seperti resepsionis, dan lain-lain.

Jika benar, maka wajar jika David menjadi sorotan. Ia cemerlang, track recordnya bagus, penelitiannya pun sangat super jenius. Lalu mengapa ia sampai bunuh diri? Benarkah karena pemutusan beasiswa?

Seperti berita yang ada di beberapa media massa, keluarga David telah mengetahui kabar mengenai pemutusan beasiswa dua minggu sebelum kematian David. Dan keluarga pun tidak berkebaratan untuk menanggung biaya kuliah. Pihak NTU pun juga menawari biaya kuliah yang dapat dicicil selama 20 tahun. Ini sungguh janggal.

Selain itu, hasil pemeriksaan mayat David memperlihatkan tidak adanya sayatan pada nadi di tangan seperti yang diberitakan. Anehnya lagi, ditemukan tiga luka pada leher David yang sebelumnya tidak pernah diberitakan. Tubuh david pun tidak mengalami hancur parah selayaknya orang yang terjun dari tempat tinggi.

Seorang wanita pegawai NTU juga mengaku mendengar suara David yang beteriak “they want to kill me” sesaat sebelum kejadian. Namun ia mengira itu hanya suara candaan biasa. Keanehan lainnya yang terjadi, pihak keluarga tidak bisa menemui pihak pimpinan NTU dengan alasan jadwal yang sangat padat. Selang beberapa hari, asisten laboratorium tempat David biasa praktikum yang diduga mengetahui detil kejadian juga meninggal dunia. Dan yang lebih parah lagi, semua hard disk tempat penyimpanan hasil penelitian David raib disita oleh pihak kepolisian Singapura.

Kejanggalan-kejanggalan ini memang merupakan hasil dari investigasi lembaga-lembaga independen, salah satunya juga melibatkan ayah David. Sedangkan kebanyakan media-media massa utama tetap terpaku pada kabar-kabar yang diberitakan oleh media-media massa Singapura. Inilah yang banyak disesalkan banyak pihak. Padahal kita tahu, media massa di Singapura diatur sangat ketat oleh pemerintah.

Selain itu pihak Kepolisian Indonesia tidak dapat berbuat apa-apa, karena Indonesia tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Singapura. Pihak KBRI pun kala itu cenderung pasif, termasuk Presiden.

SBY dan Penghargaan Dari NTU

Dengan simpang siurnya kasus David ini, SBY seharusnya berpikir ulang untuk menerima penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa dari NTU -menurut juru bicara SBY kita harus bangga karena NTU adalah salah satu kampus terbaik di dunia, tapi manakah yang lebih penting, kebanggan itu? atau harga diri negara?-. Selain keluarga David, tentu banyak orang Indonesia yang kecewa dengan sikap Indonesia terhadap kasus ini. Maka penganugerahan ini pun cenderung akan menyakiti pihak-pihak tertentu.

Mari kita bandingkan dengan kejadian lain. Masih ingat kasus warga negara Australia terpidana kasus narkoba yang mendapat ampunan hukuman dari SBY? Karena ada tekanan dari pihak pemerintah Australia, SBY bisa mengambil langkah itu. Ini aneh kan? Lalu kenapa SBY tidak berani melakukan hal serupa pemerintah Australia dalam mengatasi kasus ini? –dan juga kasus-kasus lain seperti TKI yang disiksa-. Padahal kasus yang dihadapi warga negara kita di luar negeri jauh lebih bermartabat daripada kasus narkoba.

Dulu, Jean Paul Sartre pernah menolak hadiah Nobel Sastra karena ia tau selain ada yang lebih pantas, dia juga akan cenderung menyakiti hati beberapa pihak. Frans Magnis Susesno juga pernah menolak hadiah Bakrie Awards dengan alasannya yang sangat mendalam “Hati nurani saya menolak hadiah ini, dan saya tidak pernah bisa menolak hati nurani”. Hal serupa juga dilakukan oleh Sitor Situmorang dan Goenawan Moehammad. Mochtar Lubis juga pernah mengembalikan Ramon Magsaysay Awards. Ini semua adalah contoh nyata sikap yang bisa diambil dalam kasus seperti ini.

Sekarang saya menantang SBY agar tetap datang ke NTU, lalu kemudian pada pidatonya dengan tegas menolak penganugerahan gelar ini. Kemudian SBY juga saya tantang untuk meminta pihak NTU secara terang-benderang meminta maaf atas kejadian 4 tahun lalu tersebut, karena dianggap telah lalai dan gagal dalam menjaga mahasiswanya dengan baik –khusunya mahasiswa Indonesia yang belajar di sana-. Ini merupakan masalah kedaulatan negara. Setelah kita kehilangan kedaulatan penuh terhadap ekonomi, seharusnya kita mampu mengalihkan perhatian untuk memastikan kedaulatan kita terutama yang terkait dengan hak asasi manusia warga negara kita baik di dalam negeri maupun yang di luar negeri.


Tapi pertanyaannya, mungkinkah SBY melakukan hal ini?

Jengkol mengandung minyak Atsiri

MASYARAKAT dibuat jengkel karena harga jengkol melonjak, dari Rp 10 ribu menjadi Rp 50 ribu. Jengkol lebih mahal dari seekor ayam. Penyebabnya, pasokan menurun akibat belum panen raya hingga banyaknya pohon jengkol yang ditebang.

Jengkol merupakan tumbuhan asli daerah tropis di Asia Tenggara. Selain di Indonesia, ia tumbuh di Malaysia (disebut jering, jiring), Thailand (cha niang), Myanmar (danyin), dan Nepal (dhinyindi).

Kegemaran masyarakat Nusantara memakan jengkol sudah terjejaki lama. Letnan Gubernur Hindia Belanda Thomas Stamford Raffles dalam The History of Java (1817), misalnya, sudah menyebut jengkol sebagai bahan makanan di Jawa, selain pete dan komlandingan (lamtoro).

Karel Heyne, ahli botani Belanda, juga menyebutkan soal jengkol dalam karyanya, yang terbit pada 1913, De nuttige palnten van Nederlandsch Indie, berisi tumbuh-tumbuhan yang banyak digunakan dan memiliki nilai komersial di Hindia Belanda. Dalam buku yang kemudian diterbitkan Departemen Kehutanan dengan judul Tumbuhan Berguna Indonesia (1988), dia menulis jengkol dengan tinggi hingga 26 meter tumbuh di bagian barat Nusantara, dibudidayakan penduduk di Jawa atau tumbuh liar di beberapa daerah. Jengkol bisa tumbuh baik di daerah dengan musim kemarau sedang sampai keras; tapi tak tahan musim kemarau panjang.

“Biji disenangi oleh penduduk tetapi tidak oleh orang Eropa; bijinya jarang dikemukakan tanpa keterangan tambahan ‘berbau busuk’ (Bel. stinkende),” tulis Heyne. “Biji yang sangat muda dan tua dimakan sebagai lauk, yang … pada umumnya dimasak.”

Ahli botani Jerman Justus Karl Hasskarl, sebagaimana dikutip Heyne, mengemukakan bahwa menurut penilaian orang Eropa biji jengkol tak enak rasanya; tapi penduduk senang sekali biji ini. “Bau air kencing orang yang makan biji ini memiliki bau yang keras,” kata Hasskarl, “bau yang keras ini di tempat kencing selama beberapa hari tidak hilang.”

Seperti penulis lainnya, Hasskarl menyebut bahwa kesenangan makan jengkol bisa mengakibatkan bisul dan penyakit kajengkolan (susah dan sakit ketika buang air kecil).

Dokter dan ilmuwan Belanda AG Vorderman, memberikan keterangan tentang jengkol: “Bijinya disamping banyak karbohidrat (Zetmeel) mengandung juga minyak atsiri, kalau orang makan biji ini dapat menyebabkan keracunan, menyebabkan hyperaemie ginjal atau pendarahan ginjal dan pengurangan atau penghentian keluarnya air kencing serta kejang kandung kencing (Blaaskrampen).”

Menurut Vorderman, jengkol beweh memiliki sifat yang merugikan –di Bogor disebut jengkol sepi. “Jengkol beweh adalah biji yang telah tua setelah dibenam dalam tanah selama 14 hari sampai mulai berkecambah,” kata Vorderman, sebagaimana dikutip Heyne.

Menurut Heyne, keterangan itu kurang tepat karena tujuan membenam biji jengkol yang sudah tua justru untuk mengurangi sifat-sifat merugikan. Sifat merugikan dari jengkol juga dapat berkurang dengan cara dibuat keripik jengkol. Caranya: biji yang tua direbus, dipukul palu hingga tipis, kemudian dijemur di bawah terik matahari. Setelah itu tinggal digoreng dengan sedikit tambahan garam. “Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa perlakuan demikian akan mengurangi bahaya karena minyak atsirinya akan menguap sebagai akibat cara pengolahan ini,” tulis Heyne.

Dan tentu saja olahan dari jengkol yang paling populer adalah semur jengkol. Caranya biasanya sama seperti membuat keripik jengkol. Tapi setelah dipipihkan kemudian dimasak dengan bumbu semur yang telah disiapkan.


Jengkol masih populer hingga kini. Kelangkaan jengkol mungkin tak akan jadi masalah nasional. Tapi bagi penggemar beratnya, ini persoalan yang harus segera diatasi

historia.co.id

Cerita Proyek Bahan Bakar Minyak Jarak yang Gagal Total


Sukabumi -Pada 21 Februari 2007 atau 7 tahun lalu di Desa Tanjung Harjo, Ngaringan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah ditetapkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai lokasi pencanangan Desa Mandiri Energi (DME). Kini apa hasilnya? Apakah akan terulang dengan tanaman Kemiri Sunan?

Dalam program tersebut terdapat 1.200 hektar kebun jarak pagar yang tersebar di berbagai desa di Kabupaten Grobogan, yang dikembangkan menjadi basis pengembangan DME. Sejumlah BUMN terlibat sebagai pembinanya, antara lain Perum Perhutani dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI).

Namun kini, jarak pagar di sana hampir seperti tanaman liar, tidak berarti lagi dan tidak dimanfaatkan sebagai biodiesel. Apa sebenarnya yang membuat program bahan bakar nabati (BBN) jarak pagar gagal total?

Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESD, Dadan Kusdiana mengatakan, program jarak pagar gagal karena masalah tata niaganya.

"Para petani di sana (Grobogan) hanya memproduksi biji jarak pagar dalam skala sangat kecil sekali, per petani hanya produksi 5-10 kg sebulan, padahal untuk bisa ekonomi dan dikirim ke pabrik biodiesel butuhnya 50 ton sehari, 50.000 ton setahun, tapi yang tersedia kecil sekali," ujar Dadan ditemui Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar Pakuwon, Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (9/2/2014).

Dadan mengungkapkan antara jarak pagar dengan kemiri sunan yang saat ini sedang didorong pemerintah, hampir sama, karena bisa menghasilkan biodiesel.

"Tapi kelihatannya kemiri sunan lebih unggul, karena lebih tahan lama, buahnya banyak, usianya panjang, dan banyak lagi keunggulannya," ujar Dadan

Ia mengakui, agar tidak terulang lagi proyek BBN nasib kemiri sunan seperti jarak pagar, metodenya diubah. Yaitu jarak pagar langsung ke petani, kali ini mulai dari perusahaan.

"Makanya kita hati-hati, jangan terlalu optimistis, kita mulai pelan-pelan, kita gandeng perusahaan swasta dan BUMN untuk tanam kemiri sunan. Yang jelas pasarnya ada, siap menyerap, harganya juga diperkirakan lebih murah dibandingkan dengan solar, apalagi solar kita impor," ucapnya.

Pengembangan kemiri sunan secara nyata kini sudah mulai tahap nyata seperti di Jawa Timur.


"Saat ini di Jawa Timur sudah ada perusahaan yang menanam 600 hektar kemiri sunan, mereka kerjasama dengan masyarakat, dana pemupukan dan pemeliharaan dia berikan ke petani, setelah panen, petani jual hasilnya ke perusahaan," tutupnya.

Friday, February 7, 2014

Multi-stage Sampling

Multi-stage sampling represents a more complicated form of cluster sampling in which larger clusters are further subdivided into smaller, more targeted groupings for the purposes of surveying. Despite its name, multi-stage sampling can in fact be easier to implement and can create a more representative sample of the population than a single sampling technique. Particularly in cases where a general sampling frame requires preliminary construction, multi-stage sampling can help reduce costs of large-scale survey research and limit the aspects of a population which needs to be included within the frame for sampling.

In traditional cluster sampling, a total population of interest is first divided into ‘clusters’ (for example, a total population into geographic regions, household income levels, etc), and from each cluster individual subjects are selected by random sampling. This approach however, may be considered overly-expensive or time consuming for the investigator. Using multi-stage sampling, investigators can instead divide these first-stage clusters further into second-stage cluster using a second element (for example, first ‘clustering’ a total population by geographic region, and next dividing each regional cluster into second-stage clusters by neighborhood). Multi-stage sampling begins first with the construction of the clusters. Next, the investigator identifies which elements to sample from within the clusters, and so on until they are ready to survey.

Example
In Iyoke et al. (2006) Researchers used a multi-stage sampling design to survey teachers in Enugu, Nigeria, in order to examine whether socio-demographic characteristics determine teachers’ attitudes towards adolescent sexuality education. First-stage sampling included a simple random sample to select 20 secondary schools in the region. The second stage of sampling selected 13 teachers from each of these schools, who were then administered questionnaires.
Advice
Advice for CHOOSING this option (tips and traps)
§  Consider how large your population is. Also consider how easy it will be to reach those selected for surveyingWhat are the costs involved?  Most large-scale surveys, such as governmental surveys, use some sort of multi-stage sampling to increase the logistical ease and reduce the financial costs associated with conducting large-scale surveys.
§  Consult an experienced researcher, preferably one with expertise in survey design, about the construction and implementation of multi-stage designs.
§  Make sure each stage of the survey procedure is implemented according to high standardsAs each stage of the multi-stage process is itself a sampling technique, each stage must be held to the standards as if it were the only stageIf one stage is done poorly, then this has ramifications for the rest of the data collection as well as for statistical analyses conducted further along in the research process.
§  The usual sampling rules apply – take all reasonable steps to ensure that the response rate is high.
Advice for USING this option (tips and traps)
§  Think carefully about how to implement the multi-stage approach.  As there is no strict definition to multi-stage sampling, there is no formulaic way as to how to combine the various sampling options (such as clustering, stratified, and simple random).  The multi-stage sampling procedure should be constructed in such a way to be cost and time effective while retaining both the randomness and sufficient size of the sample.  If using multi-stage sampling for the first time it is best to consult an expert experienced in complex survey design.
Resources
Guides
§  FAO: Sampling In Marketing Research Guide - This guide facilitates the decision about how to collect research data and how to select a sample of the population of interest so that it is truely representative.
Sources
·         Agresti A, and Finlay, B.  (2008)  Statistical Options for the Social Sciences, 4th edition.  (Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall).
·         Food and Agricultural Organisation of the United Nations (FAO) (1997). Chapter 7: Sampling In Marketing Research. In Marketing research and information systems. (Marketing and Agribusiness Texts - 4). Agriculture and Consumer Protection, FAO. Retrieved from http://www.fao.org/docrep/W3241E/w3241e08.htm#cluster%20and%20multistage%20sampling
·         Iyoke, C.a et al.  (2006)  “Teachers’ Attitude is Not an Impediment to Adolescent Sexuality Education in Enugu, Nigeria.”  African Journal of Reproductive Health/La Revue Africaine de la Santé Reproductive 10 (1): 81-90

Updated: 13th January 2014 - 2:50pm


Thursday, January 30, 2014

Indonesia harus lepas dari Ekonomi Ketergantungan kpd Asing


LONDON, RIMANEWS -  Investasi asing belum tentu menguntungkan Indonesia dan seharusnya merubah rezim pertumbuhan dari konsumsi ke tenaga kerja dan profit dalam rangka industrialisasi.

Konektivitas menjadi penting dan mesti terbentuk tetapi bukan konektivitas yang berdasarkan global value chain melainkan yang berdasarkan perspektif industrialisasi dengan orientasi nasional.

Hal itu diungkapkan ekonom muda Fachru Nofrian pada Sidang (Soutanance) Doktor Ilmu Ekonomi dari Universitas Paris 1 Pantheon Sorbonne di Paris, Kamis (30/1/2014).

Selama kurang lebih tiga jam Fachru mempertahankan risetnya yang berjudul "Pembangunan dan Proses Industrialisasi di Indonesia serta perbandingannya dengan China dan India Periode 1950-2013" di bawah promotor Prof Remy Herrera (CNRS).

Di depan Comitte de Jury, tulis Antara, yang terdiri dari Prof. Jean-Bernard Chatelin, Prof Patrick Dieuaide, Prof Bruno Tinel dan Prof Jerome Maucourant, Fachru menjelaskan tingkat konsumsi energi mengalami peningkatan tetapi tidak mencerminkan proses industrialisasi karena didominasi oleh tingkat permintaan final dibandingkan impor-expor.

Banyaknya investasi asing akhir-akhir ini, belum tentu memberikan keuntungan dan membawa perubahan struktural apabila Indonesia tidak hati-hati mengelola rezim pertumbuhannya, ungkap alumni S1 Fakultas Filsafat UI dan S1 Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti.

Staf Pengajar Universitas Indonesia (UI) ini mengatakan institusi rezim politik ekonomi periode 1950-2013 telah mempengaruhi produksi industri di Indonesia sehingga menyebabkan tingkat pertumbuhan yang tinggi dalam jangka waktu yang cukup panjang, tetapi sayangnya tidak mempengaruhi proses industrialisasi di Indonesia secara signifikan.

Akibatnya, Indonesia tidak mengalami perubahan struktural dan tidak ada perubahan secara mendasar dalam pembangunan di Indonesia yang masih didominasi oleh industry primer dan konektivitas yang tidak terbentuk, ujar penulis buku 5 Pilar Ekonomi Perancis yang meraih beasiswa S3 dari Ditjen Dikti Depdiknas.

Dalam risetnya yang dilakukan selama kurang lebih empat tahun, Fachru menemukan Periode Soekarno merupakan periode yang cukup lebih baik dalam rangka proses industrialisasi sehingga dapat menjadi pelajaran bagi periode yang sekarang.

Selain itu, koherensi dan korespondensi antara tujuan dan alat serta mekanisme dalam perencanaan pembangunan merupakan hal yang penting.

Tingkat pertumbuhan tidak selalu mencerminkan keadaan ekonomi yang sesungguhnya dan cenderung menyembunyikan tingkat keuntungan, sehingga jika Indonesia ingin berhasil dalam industrialisasinya, "Maka kebijakan yang berorientasi kepada tingkat profit lebih utama dibandingkan tingkat pertumbuhan," kata penerima anugerah Prix Mahar Schutzenberger 2013 for Best Dissertasion Research dari AFIDES (Franco-Indonesian Association for Development of Science) France.(Juft/RM/BI)

Monday, January 27, 2014

Indonesia masuk dalam jebakan IMPOR GANDUM

Indonesia caught in wheat
trap

Subejo, Yogyakarta | Opinion | Thu, July 11 2013, 8:50 AM

At least since the early 1970s, processed wheat-based foods have become part of daily consumption in Indonesia. Instant noodles are the most popular processed wheat-based food item, not only in urban but also in rural areas.

Searching several sources, the history of wheat in Indonesia began in 1969 when the United States introduced an economic cooperation package under Public Law 480 (PL480) that extended food assistance or humanitarian food aid in the form of wheat flour or wheat to Indonesia.

Even though this humanitarian relief no longer exists, due to some flexibility in wheat processing, suitability of food taste and practicality in consumption, many Indonesians have come to love these processed wheat products. 

The involvement of the large wheat-processing industry has been significant. Wheat can be processed into various foods, such as instant noodles, bread, cakes and pasta, or combined with local materials and food items.

A new problem arose, however, because Indonesia has a tropical climate, meaning that it cannot produce wheat. As a consequence, it has to import wheat and wheat flour from producing countries.

Sadly, public awareness of the country’s high dependence on wheat imports is low, despite the fact that such imports have reached an alarming level. The latest official data reveals that imports of wheat and wheat flour exceed 7 million tons, totaling Rp 25 trillion (US$2.52 billion). This amount outweighs the state budget allocation for agricultural development in 2013, which was set at Rp 16.4 trillion.

The public at large and Indonesian scholars have tended to only focus on yearly rice imports. As we have seen, rice imports have always ignited sociopolitical tension. However, they overlook wheat and processed wheat imports, which are much greater than rice imports in terms of economic value.

Data from the Agriculture Ministry in 2009 found that rice and processed rice imports in 2008 reached 2.89 million tons at a cost of $130 million. Wheat and processed wheat imports in the same period hit 5.1 million tons, costing the country $2.3 billion.

A report by the United Nations’ Food and Agriculture Organization (FAO), released this year, says that in 2010 Indonesia imported 770,000 tons of wheat flour to become the second-largest wheat flour importation country after Iraq. Indonesia’s wheat imports amounted to the fifth-largest total in the world for the same period with 4.81 million tons.

Leo Kusuma (2012) discovered that Indonesia’s processed wheat per capita consumption only reached 8.1 kilograms per year in 1980, but it swelled to 21.2 kilograms in 2010. Within 20 years, per capita consumption of wheat has increased by more than 200 percent.

Assuming that the wheat consumption growth remains steady at about 6 percent annually, the per capita consumption of wheat by 2050 is expected to reach 22.4 kilograms, or 2 kilograms per capita per month, which would be alarming and even dangerous for the future of the country’s food security.

As reported by the US Department of Agriculture (USDA) in 2012, the wheat preference in Indonesia is for white wheat as the main material of instant noodles and other processed food products. Indonesia mainly imports wheat from Australia (75 percent), Canada (15 percent) and the US (9 percent) as well as several other producing countries.

Putting a stop to what imports is impossible for Indonesia as international free trade agreements will not permit it. Therefore, Indonesia should search for an appropriate strategy to reduce its dependence on wheat imports, or else it will hurt its own agricultural and food production aimed at reaching food security.

A series of research studies have found several places in Indonesia that are suitable for the cultivation of particular wheat crops. Central and local governments and research institutes, including universities, need to intensify and advance their studies into wheat development in the country. Moreover, the involvement and support from local farmers and farmer groups is crucial to ensure that the production of national wheat has a future.

The flour-based food industry in Indonesia should also be encouraged to use locally produced flour variants, such as buckwheat or sorgum, cassava, sago and so on. Indonesia is blessed with vast dry land to grow and produce many kinds of flour. 

During my recent visit to villages surrounding the Gajah Mungkur Dam in the Central Java town of Wonogiri, I discovered that sorgum was a promising crop that could help Indonesia reach food security and enhance farmers’ livelihoods. Sorgum is a type of water-resistant crop that needs less water even when other crops cannot be cultivated. It can be harvested in less than 90 days and needs only minimal tending. In addition, sorgum is highly resistant to pests. So, by rotating crops, sorgum could become a safety-net crop during a long dry season.

The challenges facing sorgum farmers are a less developed market as well as less knowledge and fewer skills to process food. Partnerships between farmers and the food industry and incentives to improve production are all that the farmers need. 

A proper combination of wheat flour and locally produced flour for the food industry, both large-scale and household industries, will significantly increase the demand for local food materials that would benefit local farmers. 

An important strategy for quitting the wheat trap is education and advocacy on food diversification and food consumption behavior. Introducing various locally produced and processed foods during school lunches in play groups, kindergartens and elementary schools would be an effective way to implant new food consumption behavior

Innovation in food regulations would also play a pivotal role. For instance, the local administration in Bantul regency, Yogyakarta, has issued a bylaw that requires government agencies to stop serving snacks made of wheat for formal and official meetings. As a result, demand for locally produced food has increased in favor of local producers.

If other regions were to follow suit or if the central government adopted and enforced the policy nationally, farmers and the national food industry would reap significant benefits, and the nation’s dependency on food imports would be addressed.

The writer is a researcher at the Center for Economic and Public Policy Studies (CEPPS) at Gadjah Mada University (UGM), Yogyakarta.

www.thejakartapost.com

Tuesday, December 3, 2013

10 faktor penyebab rupiah melemah

Sindonews.com - Mantan Menteri Keuangan (Menkeu), Fuad Bawazier memprediksi, nilai tukar rupiah akan terus melemah sampai tahun depan.

Menurutnya, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD), bukan tanpa sebab. Dia mengungkapkan, ada sepuluh faktor yang menyebabkan nilai tukar rupiah terus melemah. "Rupiah melemah itu banyak faktornya," kata dia kepadaSindonews, Kamis (28/11/2013).

Pertama
, kata dia, neraca perdagangan tahun ini defisit karena lebih besar impor daripada ekspor. Kedua, neraca transaksi berjalan juga mengalami defisit karena pembayaran-pembayaran utang luar negeri yang banyak jatuh tempo. 
 
"Ketigahot money yang sering dijadikan andalan pemasukan valas mulai pulang kampung," kata Fuad yang juga sebagai praktisi ekonomi ini. 
 
Keempat, ekspektasi pasar bahwa cadangan devisa yang menurun karena faktor-faktor tersebut cenderung akan terus menurun sampai tahun depan. Kelima, paket-paket kebijakan ekonomi pemerintah hanya berjalan di atas kertas, namun di lapangan tidak efektif. 
 
Keenam, lanjut Fuad, pasar juga membaca secara jelas dan kawatir bahwa para petinggi negeri yang bertanggung jawab atas ekonomi sibuk dengan urusannya masing-masing. 

"Budiono sibuk menghadapi skandal Bank Century, Hatta Rajasa sibuk politik, Gita Wirjawan sibuk konvensi Partai Demokrat. Pada 2014 semakin auto pilot," ujarnya. 
 
Sementara, faktor ketujuh adalah program MP3EI yang dinilai praktis tidak berjalan. "Boro-boro mau mempercepat alias akselerasi pertumbuhan, target yang biasa (normal) saja tidak tercapai. Pertumbuhan ekonomi di bawah target," katanya. 
 
Faktor kedelapan adalah pasar yang membaca bahwa dengan akan di terapkannya tight money policy di USA, kurs rupiah akan semakin melemah dengan akibat lebih lanjut inflasi akan berlanjut. Kesembilan yaitu akibat lebih lanjut APBN akan semakin besar defisitnya untuk bayar utang luar negeri dan bunga. 
 
Terakhir, kata dia, dengan prospek ekonomi yang suram, maka pada 2014 sebagai tahun politik, tidak ada investasi baru. "Paling-paling yang ada mengajukan izin investasi. Kesimpulannya Indonesia diambang kesulitan ekonomi yang serius," pungkas Fuad. 
 
Seperti diketahui, nilai tukar rupiah terus mengalami pemelahan. Pada sore hari ini, nilai tukar rupiah terhadap USD menyentuh level psikologis baru ke Rp12.000/USD seiring anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir perdagangan.

Nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg sore ini berada di level Rp12.018/USD. Posisi ini melemah 132 poin dari penutupan kemarin di level Rp11.886/USD.

Masih berdasarkan data Bloomberg, rupiah pagi tadi dibuka pada level Rp11.880/USD. Adapun, poisisi rupiah terkuat hari ini di level Rp11.858/USD dan terlemah di level Rp12.028/USD.

Data yahoofinance mencatat, mata uang domestik hari ini di level Rp11.995/USD, dengan kisaran harian Rp11.885-11.988/USD. Posisi ini terkoreksi signifikan 110 poin dari penutupan sore kemarin di level Rp11.885/USD.


ekbis.sindonews.com