Monday, July 7, 2014

AKUN-AKUN PENYEBAR KEBOHONGAN DAN PEMBENTUK OPINI

1. FPI dibentuk oleh pensiunan militer sebagai attack dog yang memisahkan militer dan polisi dari tuduhan pelanggaran HAM. (Lihat dokumen-dokumen Wikileaks) Di samping itu, ingat saat tahun 1998, selain militer, ada unsur lain yang melakukan kekerasan terhadap mahasiswa dengan senjata-senjata yang tak lazim dengan pakaian-pakaian menyerupai santri-santri.


 2. Triomacan2000 (Syahganda Nainggolan [dulu Staf Ahli Menko Ekuin Hatta Rajasa, sekarang Direktur Penggalangan Relawan Tim Sukses Prabowo-Hatta Rajasa], Abdul Rasyid [Staf Ahli Menko Ekuin Hatta Rajasa], dan Raden Nuh) selalu melindungi dan memuja setinggi langit Hatta Rajasa, besan Ani Yudhoyono.

Note:
Saat ini akun Triomacan2000 sudah tewas dan diganti berubah menjadi  

Fakta Mafia Minyak di Indonesia dan Kaitannya dengan Hatta Rajasa


MILITER
Sejak awal Jenderal Besar (Purn.) Soeharto menjabat, Pertamina sangat erat dengan militer. Pasti orang tua Anda mengetahui siapa Direktur Utama Pertamina tahun 1968-1976. Iya, benar. Letnan Jenderal Ibnu Sutowo yang tinggal persis di samping Jalan Cendana, Menteng.

Ia mulai aktif di dunia perminyakan sejak tahun 1956, resmi menjadi Direktur Utama Pertamina sejak tahun 1968, dan sudah memiliki simpanan pribadi sekurang-kurangnya 226,2 juta USD pada tahun 1970. Tahun 1976, beliau diberhentikan dari jabatannya karena marak diberitakan soal korupsi dalam jumlah yang sangat besar. Korupsi ini membuat Pertamina berutang sebesar 10,5 miliar USD atau 30% total output (PDB) Indonesia saat itu. Luar biasa bukan?

Sayangnya, hingga detik ini ia tidak pernah diadili, keluarganya tetap tinggal di samping Keluarga Cendana dan masih saja kerap membuat ulah, seperti menipu Ali Sadikin.
*Selingan: Sejak tahun 1970, Ibnu Sutowo sering berpergian ke New York dengan jet pribadi Rolls Royce Silver Cloud miliknya dan sering menyuruh Bob Tutupoly datang ke New York hanya untuk membawa rendang dan menyanyi di restoran termahal di New York yang di-booking secara penuh oleh Ibnu Sutowo.
*Selingan: Gaya hidup mewah Ibnu Sutowo dan keluarga yang lain dapat dilihat di internet. Contohnya di http://www.merdeka.com/peristiwa/gay...-keluarga.html
*Selingan: Anak Ibnu Sutowo, Adiguna Sutowo, mendirikan PT Mugi Rekso Abadi (MRA) pada tahun 1993. MRA memiliki 35 anak perusahaan, antara lain: Hard Rock Cafe, Zoom Bar & Lounge, BC Bar, Cafe 21, Radio Hard Rock FM (Jakarta, Bandung, Bali), i-Radio, majalah Cosmopolitan, majalah FHM, Four Seasons Hotel dan Four Seasons Apartement di Bali, dealership Ferrari, Maserati, Mercedes Benz, Harley Davidson, Ducati, dan Bulgari.
*Selingan: Adiguna Sutowo dan istri gitaris Piyu "Padi" terlibat dalam penabrakan pagar rumah istri kedua Adiguna Sutowo.
*Selingan: Putra bungsu dari Adiguna Sutowo, Maulana Indraguna Sutowo, menikah dengan Dian Sastrowardoyo pada Mei 2010.

Titel Direktur Utama Pertamina boleh saja tidak lagi dipegang Ibnu Sutowo, namun kekuasaan militer pada sektor perminyakan tetap mendominasi hingga hari ini. (Direktur Utama Pertamina selanjutnya adalah Mayor Jenderal Piet Haryono, Mayor Jenderal Joedo Soembono, dan Mayor Jenderal Abdul Rachman Ramly) Maka, bukan suatu pemandangan yang langka di Indonesia, di samping kantor-kantor Pertamina terdapat markas-markas militer.
*Selingan: Usai reformasi 1998, KKN antara perminyakan dan militer tidak dapat dilenyapkan dan malah membantu militer berjaya kembali. Hal ini terwujud dengan penggunakan BIN dan TNI (termasuk di dalamnya Babinsa) untuk memenangkan Partai Demokrat di pemilu 2004, usai Jend. (Purn.) Susilo Bambang Yudhoyono menjabat sebagai Menteri ESDM di tahun 1999-2000. Bukti nyatanya adalah kehadiran petinggi-petinggi militer dalam jajaran tim sukses Jend. (Purn) SBY tahun 2004. Di antaranya adalah Sudi Silalahi (Sesmenko Polhukam waktu itu), Azis Ahmadi (sekretaris pribadi Menko Polhukam), Kurdi Mustofa (Asisten Deputi Politik Dalam Negeri di Kemenko Polhukam), Mayor Jenderal Muhammad Yasin, dan Mayor Jenderal Setia Purwaka.
*Selingan: Hal di atas termasuk dalam lima pertanyaan yang diajukan Megawati sejak tahun 2006yang hingga kini belum dijawab oleh SBY.

Untuk mengetahui seberapa seksinya perminyakan Indonesia, silakan cermati perhitungan KPK atas pemasukan potensial negara dari sektor perminyakan bila seluruh aktivitas mematuhi hukum dan tidak ada gratifikasi dan korupsi. Hasilnya adalah 20.000 Triliun per tahun atau 220% dari jumlah keseluruhan output (PDB) Indonesia per tahun 2013.
*Fakta: Karena perminyakan sangat-sangat menarik, tak heran kalau fokus KPK saat ini adalah membersihkan Kementerian ESDM dari koruptor-koruptor. Contoh-contohnya adalah memvonis mantan Kepala SKK Migas, Rudi Rubiandini (Alumni Perminyakan ITB), dengan hukuman 7 tahun penjara; menetapkan mantan Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Waryono Karno, sebagai tersangka; menetapkan Ketua Komisi VII (Energi Sumber Daya Mineral) DPR sekaligus Ketua DPP Partai Demokrat, Sutan Bhatoegana, sebagai tersangka; mencegah staf Menteri ESDM, I Gusti Putu Ade Pranjaya, untuk ke luar negeri; mencegah Direktur Utama PT Rajawali Swiber Cakrawala, Deni Karmaina (teman Edhie Baskoro Yudhoyono), untuk ke luar negeri; makin sering memanggil Menteri ESDM dan Sekretaris Majelis Tinggi Partai Demokrat Jero Wacik, dan sudah memanggil Triesnawati Wacik (istri Jero Wacik) dan Ayu Vibrasita (anak Jero Wacik).
*Fakta: Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 mewajibkan "Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.", bukan “...dipergunakan untuk sebesar-besarnya beberapa dinasti yang tindakannya berkontradiksi dengan ucapannya”, seperti yang dirasakan oleh penduduk Sumbawa dan penduduk Rusia.
MAFIA PERMINYAKAN
Karena semua kalangan berpendidikan telah mengetahui mengenai Muhammad Riza Chalid (MRC)“Gasoline Godfather” di Petral (Pertamina Energy Trading Limited), Hutomo Mandala Putra (Humpuss Intermoda Transportasi), Bambang Trihatmodjo (Bimantara Grup) (ipar salah satu capres), dan Hatta Rajasa, saya rasa tak perlu menguraikannya.
*Sedikit generous clues for non engineering or economics graduates:
1. Fakta: Pada 9 Juni 2014, Koran “Jakarta Post” membeberkan isi wawancaranya dengan Hatta Rajasa. Hatta Rajasa mengakui bahwa ia telah bersahabat dengan Muhammad Riza Chalid (MRC) selama beberapa dekade, mengatakan bahwa MRC mempunyai bisnis impor minyak, dan mengatakan bahwa ia kenal MRC dari Majelis Dzikir.
2. Fakta: Tabloid Politic Edisi 15 Mei 2012 memaparkan bahwa Muhammad Riza Chalid mempunyai bisnis impor minyak, mempunyai Kidzania (di Pacific Place, SCBD Tomy Winata), mendirikan Al-Jabr Islamic International School yang sewaktu pendirian diresmikan oleh Drs. H. Suryadharma Ali, M.Si., dan menempati rumah di Jalan Wijaya (di belakang Mabes Polri dan di kawasan SCBD Tomy WinataBank Artha Graha).
3. Fakta: Pada Rabu, 2 Juli 2014, Ketua Dewan Pertimbangan Presiden RI, Prof. Dr. Emil Salim, Ph.D (keponakan Haji Agus Salim) menegaskan bahwa “R” adalah sahabat salah satu cawapres, R adalah keturunan Pakistan, R sangat ingin subsidi BBM tetap ada dan membesar karena akan semakin menguntungkan dirinya, dan terakhir kita membangun kilang penyulingan minyak (refinery) adalah pada sekitar zaman Ginandjar Kartasasmita (tahun 1988-1993).
4. Fakta: Majalah Intelijen edisi 5-18 November 2009 mengulas mengenai perusahaan induk Riza Chalid, Petral dan Global Energy Resources, dan anak-anak perusahaannya Supreme Energy, Orion Oil, Paramount Petro, Straits Oil, dan Cosmic Petroleum di British Virgin Island dan kongsi bisnisnya yang bersifat tidak transparan dengan Pertamina.
5. Fakta: Dr. Theodorus M. Tuanakotta, S.E., M.B.A. (CEO Deloitte salah satu Big4 Kantor Akuntan Publik di dunia, MBA dari Harvard Business School, Tenaga Ahli BPK dan KPK, penulis buku "Akuntansi Forensik dan Audit Investigatif" yang sangat populer, penerima Satyalancana Wira Karya, dan anggota staf pengajar dan peneliti di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia) menuturkan bahwa Hatta Rajasa memiliki influence amat sangat besar di Indonesia karena ia terlibat dengan Muhammad Rizal Chalid "Gasoline Godfather" Pertamina Energy Trading Limited (Petral) di Singapura. Menurut Pak Theodorus, Rizal Chalid menghasilkan 3,153 juta USD per hari setara 37,839 miliar rupiah per hari (Kalkulasi: Impor 850rb barrel/hari x 80% Petral x 41,67% Riza Chalid x 159 liter/barrel x 0,07 mark-up/liter x Rp12.000/USD), sementara keluarga Ani Yudhoyono mendapat 7,872 miliar rupiah per hari atau 0,5 USD per barrel dari minyak mentah dan minyak olahan baik yang diimpor maupun yang diekspor. (Hal senada juga dipublikasikan oleh Menteri Koordinator bidang Perekonomian dan Menteri Keuangan pada Kabinet Persatuan Nasional, Dr. Rizal Ramli, Ph.D.; Guru Besar Manajemen UI, Prof. Rhenald Kasali, S.E., Ph.D.; peneliti senior Indonesian Resources Studies, Ir. Samsul Hilal, M.S.E.; dan Direktur Eksekutif Indonesia Mining and Energy Studies, Erwin Usman.)



*Fakta: Laporan Utama di Majalah GEO ENERGI Indonesia edisi Januari 2014: "Ambisi Pertamina buat (Si)apa?" yang ditulis oleh Sri Widodo Soetardjowijono, Ishak Pardosi, Amanda Puspita Sari, Faisal Ramadhan, dan Indra Maliara menguraikan bagaimana Hatta Rajasa sukses mengantarkan sekitar 60 persen anggota kabinet ke dalam Kabinet Indonesia Bersatu. Usut punya usut, orang-orang ini ternyata berasal dari rekomendasi Riza Chalid dan bertujuan untuk mengamankan bisnis minyaknya.
*Fakta: Nama Riza Chalid makin ramai disebut-sebut sejak pemberitaan bahwa Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan hendak membubarkan Petral karena disinyalir jadi sarang korupsi. Namun, belum tuntas rencana Dahlan Iskan membubarkan Petral, ia keburu dipanggil dan ditegur keras oleh Presiden Jenderal (Purn.) SBY dan Hatta Rajasa di depan Karen Agustiawan (Alumni ITB). Isu pembubaran Petral pun kembali menguap.
*Fakta: Banyak kegeraman warga di twitter, facebook, dan instagram yang intinya menceritakan ambisi menggebu-gebu Muhammad Riza Chalid agar Hatta Rajasa menjadi orang nomor 1 di negeri ini. Dimulai dari Riza Chalid berusaha sangat keras untuk mencomblangi Joko Widodo dengan Hatta Rajasa. Salah satunya adalah dengan mendorong Amien Rais untuk menyuarakan duet Joko Widodo-Hatta Rajasa dari jauh-jauh hari, membuat team desain untuk membuat gambar-gambar “JKW-HR” untuk di BBM, Twitter, Facebook, dan spanduk; dan bahkan, usai pileg, Riza Chalid dan Hatta Rajasa mendatangi Jokowi untuk mengajukan dana kampanye tidak terbatas sebagai ganti menjadikan Hatta Rajasa menjadi wakil Jokowi dan platform pengelolaan Sumber Daya Alam akan diatur oleh PAN.

Sekilas tentang Data/Statistik Perminyakan Indonesia
*Fakta: Negara superpower Amerika Serikat yang terunggul dalam penyadapan pun kewalahan dengan inkonsistensi data statistik perminyakan di negara kita. Hal ini dinyatakan secara gamblang oleh US dalam pembukaan laporan 2005-2006 dan pembukaan laporan 2007-2008.
*Fakta: Dari tahun 2004 hingga tahun 2012, terdapat inkonsistensi data produksi minyak antara di SKK Migas dan di Kementerian ESDM.
*Fakta: Dari tahun 2002 hingga tahun 2012, trend jumlah lifting (produksi) minyak kita terus menurun namun trend cost recovery kita terus menanjak.
*Fakta: Dari tahun 2007 hingga tahun 2012, secara kasar terdapat kekurangan 654 triliun rupiah pada penerimaan negara bukan pajak (PNPB) migas di Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (Audited) bila PNPB migas dihitung sesuai Laporan Tahunan SKK Migas.
*Selingan: Kalangan akuntan publik/auditor independen tertawa terpingkal-pingkal saat melihat iklan-iklan menghambur-hamburkan uang khas Pertamina di Koran KOMPAS dan lain-lain untuk membanggakan diri karena bisa masuk Fortune 500 (500 perusahaan terbesar dari segi pendapatan,bukan laba bersih yang sudah dikurangi beban operasi) kendati Pertamina masih mendapat bantuan subsidi dan perlakuan istimewa dari pemerintah.
  
Utama: Permainan antara Muhammad Riza Chalid “Gasoline Godfather” di Petral dan Hatta Rajasa
*Fakta: Melihat sejarah Hatta Rajasa, ia dikenal sebagai salah satu pengusaha yang sejak tahun 1980 bergabung dengan Medco Energy milik Arifin Panigoro (Alumni ITB) di Singapura dan di Indonesia. 
*Fakta: Tren Pendidikan S1 Direktur Utama Pertamina akhir-akhir ini adalah Alumni Teknik ITB dan Hatta Rajasa berasal dari S1 Teknik Perminyakan ITB. (Martiono Hadianto, Baihaki Hakim, Ariffi Nawawi, dan Karen Agustiawan juga adalah Alumni Teknik ITB).
*Fakta: Pada 11 Februari 2014, Wakil Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), M. Fanshurullah Asa, kembali menegaskan fakta bahwa Indonesia mengimpor BBM dari Singapura, negara yang tidak ada eksplorasi (pencarian) dan eksploitasi (produksi) minyak.
*Fakta: Walaupun Singapura tidak memiliki sumur minyak, kapasitas penyulingan minyak (refinery) di Singapura adalah 1,4 juta barrel/hari, sedangkan kapasitas di Indonesia hanya 1,1 juta barrel/hari.
*Fakta: Mahfud MD pernah menyebut Pertamina sebagai “sarang koruptor”.
*Fakta: Silakan melihat laporan keuangan Pertamina bagian Opini Auditor Independen PricewaterhouseCoopers, Petral di Singapura yang notabene berperan sangat penting bagi kita, negara raksasa pengimpor minyak, malahan tidak diaudit oleh PwC sendiri dengan alasan aset lancar (kas, piutang, dsb) dan aset tetap (bangunan, dsb)-nya kecil. Padahal dengan diauditnya Petral oleh PwC sendiri, mungkin dapat mengungkap kecurigaan harga beli BBM yang sesungguhnya yang selama ini memberatkan pos belanja negara (subsidi).
Tentu saja, hal ini ditolak mentah-mentah oleh Jokowi dan mereka pun terpaksa menciptakan duet dadakan Prabowo-Hatta dengan mahar 10 triliun. (Berbanding terbalik dengan Jokowi, Prabowo yang megap-megap keuangannya menerima duet dan uang ini). Usai transaksi tersebut, Bos Petral yang merugikan negara 75 triliun per tahun ini kemudian membeli rumah Yurike Sanger, istri ketujuh Soekarno, untuk memberi kesan Sukarnois melalui Haji Harris Efendi Thahir (Ketua Umum Majelis Dzikir SBY Nurussalam). Dalam menjaga investasinya, Riza Chalid rutin mengunjungi Rumah Polonia,membiayai tabloid “Obor Rakyat” yang dipimpin Asisten Staf Khusus Presiden Setyardi Boediono, dan, bersama dengan Hatta Rajasa, menghalalkan segala cara untuk memenangi pilpres ini. Salah satu bentuk penghalalan segala cara yang dapat memicu Allah murka adalah menghilangkan makna suci “Perang Badar”, menggaet Pemuda Pancasila FPI FBR, membuat surat palsu pemanggilan Jokowi terkait Bus TransJakarta yang dibuat oleh Edgar S. Jonathan (Ketua Tunas Indonesia Raya yang dekat dengan CameoProject saat membuat flashmob baju kotak-kotak untuk kampanye Basuki-Jokowi di tahun 2012), membuat transkrip palsu (yang sudah dituntut oleh Jaksa Agung, KPK, dan Megawati), menggunakan politik uang, merusak rasa persaudaraan Bangsa Indonesia dengan mengatakan PDI-Perjuangan adalah jiplakan PKI melalui tvOne milik Aburizal Bakrie (Update: tvOne sudah minta maaf), dan mengganggu konsentrasi Jusuf Kalla sepanjang debat cawapres yang disiarkan di RCTI, Global TV dan MNC TV milik Hary Tanoesoedibjo dan Bambang Trihatmodjo yang ditonton oleh ratusan juta penduduk Indonesia dan Hatta Rajasa tidak dapat menahan senyum ketika menikmati hal ini. Tindakan-tindakan tidak beradab calon menteri-menteri Prahara (duduk di belakang Hatta Rajasa) dan hadirin (di belakang moderator) ini sungguh tidak pantas ada di negeri ini.
*Kabar belum terkonfirmasi: Simson Panjaitan yang berlatar belakang hukum dan minim pengalaman ditempatkan menjadi kepala keuangan (Head of Finance) di Petral.
*Kabar belum terkonfirmasi: Wijasih Cahyasari “Wiwiek”, kakak Ani Yudhoyono, pernah menerima 400 ribu USD dari Riza Chalid sebagai ganti Riza Chalid membatalkan pertemuan Wiwiek dan Dirut Petral Nawazier.
*Kabar belum terkonfirmasi: Ari Soemarno (Alumni RWTH Aachen, Jerman) diberhentikan usai menjabat sebagai Direktur Utama Pertamina tahun 2006-2009 karena berhasil membentuk Integrated Supply Chain (ISC) untuk pembelian tender impor yang fair, ingin memindahkan Petral dari Singapura ke Batam, dan dikhawatirkan dekat dengan Megawati seperti adiknya, Rini Mariani Soemarno Soewandi (Menperin tahun 2001-2004).
*Selingan: Walaupun diberi jabatan Menteri Koodinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa dianggap sangat tidak mengerti ekonomi dan sering menjadi bahan tertawaan oleh Chatib Basri, Faisal Basri, Darmin Nasution, Fauziah Zen, Mawar I. R. Napitupulu, dan hampir seluruh dosen yang mengajar di FEUI. Satu dari sekian banyak contoh yang mudah adalah ucapan Hatta Rajasa pada tahun 2010 yang menargetkan PDB Nominal mencapai angka Rp 10.000 Triliun per tahun 2014. Pak Chatib Basri (sebelum terpilih jadi menteri) mengatakan "Menko Ekuin kalian sekarang tol*l banget tuh.. Masa' menggunakan PDB Nominal sebagai target.. Kalau saya jadi dia sih, gampang saja, saya naikan saja inflasi dua kali lipat." Hal ini sontak disambut tawa menggelegar satu kelas besar. Bagaimana mungkin seorang menko ekuin tidak mengetahui perbedaan antara PDB Nominal dan PDB Riil (yang sudah di-adjust dengan inflasi/kenaikan harga); sesuatu yang telah diajarkan di Pengantar Ekonomi 1.

Utama: Permainan oleh Keluarga Ani Yudhoyono dan Partai Demokrat
*Fakta: Hatta Rajasa dan Marzuki Alie (Wakil Ketua Umum Majelis Tinggi Partai Demokrat) lahir di Palembang.
*Fakta: Usai Purnomo Yusgiantoro (Golkar, Alumni ITB) menjabat sebagai Menteri ESDM selama 9 tahun, ia langsung digantikan Darwin Zahedy Saleh (pendiri dan anggota Dewan Pembina Partai Demokrat) selama dua tahun dan, kemudian, Jero Wacik (Sekretaris Jenderal Partai Demokrat) sampai sekarang.
*Fakta: Pernikahan Siti Ruby Aliya Rajasa dan Edhie Baskoro Yudhoyono diyakini hampir seluruh elemen masyarakat Indonesia berfungsi untuk mempertebal cengkraman dinasti Hatta Rajasa dan Ani Yudhoyono di Indonesia.
*Fakta: Menurut buku "Cikeas Kian Menggurita" yang ditulis George Junus Aditjondro dan diterbitkan Galang Press, keluarga Ani Yudhoyono terlibat dalam sindikat mafia perminyakan guna menambah kekayaan dan kekuasaan. Untuk memastikan ini, silakan Anda mencari tahu alasan di balik grasi Schapelle Leigh Corby (Warga Negara Australia), usai santer diberitakan penyadapan Australia memperoleh bukti-bukti bahwa keluarga besar Ani Yudhoyono, khususnya Erwin Sudjono (kakak ipar Ani Yudhoyono), sangat aktif dalam mafia perminyakan.
 Foto: Erwin Sudjono, mantan Pangkostrad (kakak ipar Ani Yudhoyono, suami Wiwiek)
 Foto: Gatot Mudiantoro SuwondoCEO Bank BNI (adik ipar Ani Yudhoyono)
Utama: Penistaan Rasa Keadilan oleh Keluarga Jend. Besar (Purn.) Soeharto dan Keluarga Ani Yudhoyono kepada Masyarakat Indonesia

*Fakta: Selain kasus Ibnu Sutowo dan Rudi Rubiandini, sangat banyak sekali kasus di Kementerian ESDM yang merobek-robek rasa keadilan masyarakat Indonesia. Sedikit dari sekian banyak kasus yang dibiarkan pemerintah Orba dan “Orba bungkus baru” adalah Production Sharing Contract sejak UU No. 8 Tahun 1971 berlakuTriton (perusahaan Perancis) tahun 1989, Depo Balaraja sejak tahun 1996Mark-Up di Kilangan Balongan sejak tahun 1998Petral dan Credit Suisse Singapura di tahun 2002penjualan VLCC di bawah harga pasar oleh Laksamana Sukardi (Alumni ITB, teman Arifin Panigoro “Medco Energy”) di bulan Juni tahun 2004perjanjian sewa tanker Humpuss Intermoda (perusahaan Tommy Soeharto) untuk tahun 1990-2009 dan 2009-2014impor minyak Zatapi di tahun 2008, dan kelebihan Cost Recovery kepada Chevron di tahun 2012.

Utama: Keburukan Setahun sebelum Pilpres

*Fakta: Pada Maret 2013, Hatta Rajasa, Wakil Menteri ESDM, dan Karen Agustiawan berangkat ke Irak untuk membeli ConocoPhillips Algeria Ltd dengan harga 1,75 miliar USD yang diklaim Pertamina akan menghasilkan 23.000 barrel per hari. Di lain sisi, Reuters mengatakan net carrying valueConocoPhillips Algeria Ltd hanyalah 850 juta USD dan rata-rata produksinya hanya 11.000 barrel perhari. Maka bila kita hitung, terdapat selisih 900 juta USD atau setara 10,8 triliun rupiah (kurs Rp12.000/USD) dan selisih produksi 12.000 barrel per hari. Kemana larinya?

*Fakta: Pada Senin 9 Desember 2013, bersamaan dengan tragedi tabrakan KRL dan mobil tangki Pertamina di Bintaro, Pertamina melakukan ground breaking proyek pembangunan Pertamina Energy Tower setinggi 99 lantai dengan total biaya lebih dari 850 juta USD atau 10,2 triliun rupiah (kurs Rp12.000/USD). Dalihnya adalah untuk menyaingi gedung Petronas setinggi 88 lantai.
*Fakta: Ari Soemarno (mantan Direktur Utama Pertamina, alumni RWTH Aachen Jerman) sangat tidak setuju tindakan Pertamina untuk membangun gedung yang menyaingi tinggi gedung Petronasbila 70 persen pendapatan Pertamina masih berasal dari penjualan BBM Bersubsidi. Lebih jauh,Direktur Eksekutif Indonesia Energi Monitoring, Zuli Hendriyanto, juga sependapat dan menyarankan agar Pertamina fokus memperbaiki kondisi internalnya terlebih dahulu.


Sunday, February 9, 2014

SALAH BESAR !! SBY menerima penghargaan Honoris Doctoral dari Nanyang Technological University Singapur

Oleh: Ferdiansyah Rivai

Sabtu kemarin, melalui website Sekretaris Kabinet, Dr. Teuku Faizarsyah, Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional merilis berita berikut “Presiden SBY akan menerima penganugerahan gelar Honoris Doctoral (Doctor of Letters) dari Nanyang Technological University (NTU). Penganugerahan ini merupakan pengakuan dari dunia akademis di Singapura atas kemajuan Indonesia di berbagai bidang di bawah kepemimpinan Presiden SBY. Selain itu, Penganugerahan gelar tersebut juga dikaitkan dengan kontribusi Presiden SBY tidak hanya bagi penguatan hubungan dan kerjasama Indonesia-Singapura tetapi juga bagi perdamaian, stabilitas dan kemajuan di kawasan dan di dunia internasional”.

Jika saja bukan Nanyang Technological University (NTU) yang memberikan gelar, mungkin berita ini tidak akan terhighlight sedemikian rupa di pikiran saya. Mungkin saya hanya akan sedikit tersenyum getir. Mungkin juga sedikit bangga karena ada institusi pendidikan tinggi yang menilai Presiden Indonesia berprestasi dan memiliki kontribusi bagi dunia internasional. Dan setelah itu ya sudah, cukup. Namun kali ini beda, ada seutas pikiran saya yang terusik.

Siapa David Hartanto? (Menolak Lupa)

Saya harap kita semua memiliki ingatan yang baik. Pada medio 2009, Indonesia pernah digegerkan oleh kabar kematian seorang anak bangsa yang sangat cemerlang bernama David Hartanto, mahasiswa Fakultas Teknik NTU yang pernah mewakili Indonesia di Olimpiade Matematika Internasional. Ia diberitakan meninggal bunuh diri dengan melompat dari lantai 4 gedung kampus NTU setelah menusuk Profesor pembimbing Final Year Project (semacam skripsi) nya. Umumnya media massa memberitakan David terkena depresi akibat pemutusan beasiswa dari ASEAN, padahal penelitiannya membutuhkan biaya besar dan masih membutuhkan waktu yang cukup lama.

Kematian David menimbulkan polemik besar yang sampai saat ini menurut saya belum memiliki kejelasan. Beberapa pihak lain menilai kematian David lebih terkesan karena dibunuh daripada bunuh diri. Ini ada kaitan dengan penelitiannya yang sarat akan nilai keekonomian.

Sebelum kematiannya, David sedang menggarap penelitian berjudul Multiview Acquisition from Multi-camera Configuration for Person Adaptive 3D Display. Hasil penelitian David dinilai akan menghasilkan suatu metode yang dapat digunakan untuk membuat aplikasi multi kamera yang mampu menghasilkan gambar 3 Dimensi yang bisa tayang di udara. Aplikasi ini sangat berguna misalkan untuk kebutuhan intelijen di mana sosok orang digital bisa diprogram masuk ke ruang tertentu dipantau melalui kamera CCTV dan gerakannya dipandu pemindai gerak (motion capture). Gambar visual ini mampu mengirim data, suara, layaknya manusia sesungguhnya yang sedang kita perintah bekerja. Aplikasi ini juga berguna bagi televisi masa depan, di mana kita dapat menonton tayangan 3 Dimensi tanpa kacamata khusus. Aplikasi ini pun dapat diterapkan pada layanan-layanan commercial public seperti resepsionis, dan lain-lain.

Jika benar, maka wajar jika David menjadi sorotan. Ia cemerlang, track recordnya bagus, penelitiannya pun sangat super jenius. Lalu mengapa ia sampai bunuh diri? Benarkah karena pemutusan beasiswa?

Seperti berita yang ada di beberapa media massa, keluarga David telah mengetahui kabar mengenai pemutusan beasiswa dua minggu sebelum kematian David. Dan keluarga pun tidak berkebaratan untuk menanggung biaya kuliah. Pihak NTU pun juga menawari biaya kuliah yang dapat dicicil selama 20 tahun. Ini sungguh janggal.

Selain itu, hasil pemeriksaan mayat David memperlihatkan tidak adanya sayatan pada nadi di tangan seperti yang diberitakan. Anehnya lagi, ditemukan tiga luka pada leher David yang sebelumnya tidak pernah diberitakan. Tubuh david pun tidak mengalami hancur parah selayaknya orang yang terjun dari tempat tinggi.

Seorang wanita pegawai NTU juga mengaku mendengar suara David yang beteriak “they want to kill me” sesaat sebelum kejadian. Namun ia mengira itu hanya suara candaan biasa. Keanehan lainnya yang terjadi, pihak keluarga tidak bisa menemui pihak pimpinan NTU dengan alasan jadwal yang sangat padat. Selang beberapa hari, asisten laboratorium tempat David biasa praktikum yang diduga mengetahui detil kejadian juga meninggal dunia. Dan yang lebih parah lagi, semua hard disk tempat penyimpanan hasil penelitian David raib disita oleh pihak kepolisian Singapura.

Kejanggalan-kejanggalan ini memang merupakan hasil dari investigasi lembaga-lembaga independen, salah satunya juga melibatkan ayah David. Sedangkan kebanyakan media-media massa utama tetap terpaku pada kabar-kabar yang diberitakan oleh media-media massa Singapura. Inilah yang banyak disesalkan banyak pihak. Padahal kita tahu, media massa di Singapura diatur sangat ketat oleh pemerintah.

Selain itu pihak Kepolisian Indonesia tidak dapat berbuat apa-apa, karena Indonesia tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Singapura. Pihak KBRI pun kala itu cenderung pasif, termasuk Presiden.

SBY dan Penghargaan Dari NTU

Dengan simpang siurnya kasus David ini, SBY seharusnya berpikir ulang untuk menerima penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa dari NTU -menurut juru bicara SBY kita harus bangga karena NTU adalah salah satu kampus terbaik di dunia, tapi manakah yang lebih penting, kebanggan itu? atau harga diri negara?-. Selain keluarga David, tentu banyak orang Indonesia yang kecewa dengan sikap Indonesia terhadap kasus ini. Maka penganugerahan ini pun cenderung akan menyakiti pihak-pihak tertentu.

Mari kita bandingkan dengan kejadian lain. Masih ingat kasus warga negara Australia terpidana kasus narkoba yang mendapat ampunan hukuman dari SBY? Karena ada tekanan dari pihak pemerintah Australia, SBY bisa mengambil langkah itu. Ini aneh kan? Lalu kenapa SBY tidak berani melakukan hal serupa pemerintah Australia dalam mengatasi kasus ini? –dan juga kasus-kasus lain seperti TKI yang disiksa-. Padahal kasus yang dihadapi warga negara kita di luar negeri jauh lebih bermartabat daripada kasus narkoba.

Dulu, Jean Paul Sartre pernah menolak hadiah Nobel Sastra karena ia tau selain ada yang lebih pantas, dia juga akan cenderung menyakiti hati beberapa pihak. Frans Magnis Susesno juga pernah menolak hadiah Bakrie Awards dengan alasannya yang sangat mendalam “Hati nurani saya menolak hadiah ini, dan saya tidak pernah bisa menolak hati nurani”. Hal serupa juga dilakukan oleh Sitor Situmorang dan Goenawan Moehammad. Mochtar Lubis juga pernah mengembalikan Ramon Magsaysay Awards. Ini semua adalah contoh nyata sikap yang bisa diambil dalam kasus seperti ini.

Sekarang saya menantang SBY agar tetap datang ke NTU, lalu kemudian pada pidatonya dengan tegas menolak penganugerahan gelar ini. Kemudian SBY juga saya tantang untuk meminta pihak NTU secara terang-benderang meminta maaf atas kejadian 4 tahun lalu tersebut, karena dianggap telah lalai dan gagal dalam menjaga mahasiswanya dengan baik –khusunya mahasiswa Indonesia yang belajar di sana-. Ini merupakan masalah kedaulatan negara. Setelah kita kehilangan kedaulatan penuh terhadap ekonomi, seharusnya kita mampu mengalihkan perhatian untuk memastikan kedaulatan kita terutama yang terkait dengan hak asasi manusia warga negara kita baik di dalam negeri maupun yang di luar negeri.


Tapi pertanyaannya, mungkinkah SBY melakukan hal ini?

Jengkol mengandung minyak Atsiri

MASYARAKAT dibuat jengkel karena harga jengkol melonjak, dari Rp 10 ribu menjadi Rp 50 ribu. Jengkol lebih mahal dari seekor ayam. Penyebabnya, pasokan menurun akibat belum panen raya hingga banyaknya pohon jengkol yang ditebang.

Jengkol merupakan tumbuhan asli daerah tropis di Asia Tenggara. Selain di Indonesia, ia tumbuh di Malaysia (disebut jering, jiring), Thailand (cha niang), Myanmar (danyin), dan Nepal (dhinyindi).

Kegemaran masyarakat Nusantara memakan jengkol sudah terjejaki lama. Letnan Gubernur Hindia Belanda Thomas Stamford Raffles dalam The History of Java (1817), misalnya, sudah menyebut jengkol sebagai bahan makanan di Jawa, selain pete dan komlandingan (lamtoro).

Karel Heyne, ahli botani Belanda, juga menyebutkan soal jengkol dalam karyanya, yang terbit pada 1913, De nuttige palnten van Nederlandsch Indie, berisi tumbuh-tumbuhan yang banyak digunakan dan memiliki nilai komersial di Hindia Belanda. Dalam buku yang kemudian diterbitkan Departemen Kehutanan dengan judul Tumbuhan Berguna Indonesia (1988), dia menulis jengkol dengan tinggi hingga 26 meter tumbuh di bagian barat Nusantara, dibudidayakan penduduk di Jawa atau tumbuh liar di beberapa daerah. Jengkol bisa tumbuh baik di daerah dengan musim kemarau sedang sampai keras; tapi tak tahan musim kemarau panjang.

“Biji disenangi oleh penduduk tetapi tidak oleh orang Eropa; bijinya jarang dikemukakan tanpa keterangan tambahan ‘berbau busuk’ (Bel. stinkende),” tulis Heyne. “Biji yang sangat muda dan tua dimakan sebagai lauk, yang … pada umumnya dimasak.”

Ahli botani Jerman Justus Karl Hasskarl, sebagaimana dikutip Heyne, mengemukakan bahwa menurut penilaian orang Eropa biji jengkol tak enak rasanya; tapi penduduk senang sekali biji ini. “Bau air kencing orang yang makan biji ini memiliki bau yang keras,” kata Hasskarl, “bau yang keras ini di tempat kencing selama beberapa hari tidak hilang.”

Seperti penulis lainnya, Hasskarl menyebut bahwa kesenangan makan jengkol bisa mengakibatkan bisul dan penyakit kajengkolan (susah dan sakit ketika buang air kecil).

Dokter dan ilmuwan Belanda AG Vorderman, memberikan keterangan tentang jengkol: “Bijinya disamping banyak karbohidrat (Zetmeel) mengandung juga minyak atsiri, kalau orang makan biji ini dapat menyebabkan keracunan, menyebabkan hyperaemie ginjal atau pendarahan ginjal dan pengurangan atau penghentian keluarnya air kencing serta kejang kandung kencing (Blaaskrampen).”

Menurut Vorderman, jengkol beweh memiliki sifat yang merugikan –di Bogor disebut jengkol sepi. “Jengkol beweh adalah biji yang telah tua setelah dibenam dalam tanah selama 14 hari sampai mulai berkecambah,” kata Vorderman, sebagaimana dikutip Heyne.

Menurut Heyne, keterangan itu kurang tepat karena tujuan membenam biji jengkol yang sudah tua justru untuk mengurangi sifat-sifat merugikan. Sifat merugikan dari jengkol juga dapat berkurang dengan cara dibuat keripik jengkol. Caranya: biji yang tua direbus, dipukul palu hingga tipis, kemudian dijemur di bawah terik matahari. Setelah itu tinggal digoreng dengan sedikit tambahan garam. “Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa perlakuan demikian akan mengurangi bahaya karena minyak atsirinya akan menguap sebagai akibat cara pengolahan ini,” tulis Heyne.

Dan tentu saja olahan dari jengkol yang paling populer adalah semur jengkol. Caranya biasanya sama seperti membuat keripik jengkol. Tapi setelah dipipihkan kemudian dimasak dengan bumbu semur yang telah disiapkan.


Jengkol masih populer hingga kini. Kelangkaan jengkol mungkin tak akan jadi masalah nasional. Tapi bagi penggemar beratnya, ini persoalan yang harus segera diatasi

historia.co.id