Friday, May 3, 2013

Sosok Dahlan Iskan Kandidat Capres 2014 (1)

asatunews.com - Ketika pertama sekali Dahlan Iskan mencuri perhatian publik, kapasitasnya masih sebagai Dirut PLN. Dahlan Iskan tiba-tiba ditunjuk sebagai Dirut PLN tanpa pertimbangan rasional yang jelas. Latar belakang dia wartawan dan konglomerat pers.

Sedikit publik yang mengetahui Dahlan Iskan dapat memiliki Harian Jawa Pos disinyalir karena usahanya yang berhasil menipu dan mengkhianati Eric Samola dan keluarga yang telah memberinya bantuan modal, utang dan membesarkannya ketika masa awal Dahlan keluar dari pekerjaannya sebagai wartawan majalah TEMPO dan memulai menjalankan bisnis media milik Eric Samola saat itu yakni Harian Jawa Pos. 

Dahlan Iskan memang mempunyai PLTU di Kaltim, tapi baru 2 tahun beroperasi dan selalu merugi. Kepemilikan sebagian saham di PLTU itu menjadi "reasoning". Tanpa diketahui luas oleh publik, penunjukan Dahlan Iskan sebagai Dirut PLN dan kemudian MenBUMN sebenarnya adalah akibat campur tangan Chairul Tanjung.

Chairul Tanjung, konglomerat Para Grup/Trans corp adalah penguasa sebenarnya di kementerian BUMN. Diduga ada deal khusus antara Chairul Tandjung dengan SBY. Siapapun yang menjadi Menteri BUMN tak terlepas dari nama yang direkomendasikan Chairul Tanjung yang menjadi salah satu penyumbang dana kampanye terbesar SBY pada pemilu/pilpres 2009 yang lalu. Chairul Tanjung sendiri sebenarnya juga tidak bertindak atas nama pribadi, dia disebut -sebut sebagai proxy dan pengelola sebagian asset Salim Grup (Antony Salim), konglomerat terkaya Indonesia.

Sebagian asset dan usaha Salim grup, bermetamorfosis ke dalam Para Grup / Trans corp. Menyamar dan mengamankan diri akibat trauma kerusuhan besar yang melanda Jakarta pada tahun 1998. Kekayaan luar biasa Salim Grup kini terdistribusi dalam beberapa kenglomerasi baru diantaranya dikelola atas nama Chairul Tanjung / Trans corp / Para grup. Jadi, donasi Chairul Tanjung kepada SBY dan penguasaan Chairul Tanjung terhadap portofolio Kementerian BUMN, sebenarnya adalah cengkraman kekuasaan Salim grup secara tidak langsung.

Dahlan Iskan jadi Dirut PLN juga tak terlepas dari pengaruh Chairul Tanjung dan Antony Salim ke Presiden SBY. Setelah menjadi Dirut, Dahlan Iskan "banyak melakukan reformasi" di internal PLN. Yang menjadi "kehebatan" Dahlan Iskan sebagai Dirut PLN adalah kemampuannya mempromosikan dirinya sendiri selaku Dirut atau PLN dengan berbagai cara diantaranya mempopulerkan CEO atau Dahlan Iskan Note sebagai senjata ampuh bagi Dahlan Iskan untuk memperkuat eksistensi dirinya di PLN. Dari soal remeh temeh sampai hal yang sangat serius bisa ikuti oleh seluruh karyawan PLN. Tentu saja CEO Note tersebut lebih bersifat politis dan bertujuan mempromsikan diri Dahlan Iskan sendiri. Kesadarannya bahwa dia memiliki "posisi istimewa" sebagai Dirut PLN dengan dukungan besar dari Chairul Tanjung dan SBY yang kemudian disalahgunakan untuk mendapatkan berbagai kemudahan dan membangun pencitraan dirinya sendiri dengan mengorbankan uang negara puluhan triliun rupiah.

Hanya seminggu setelah dilantik sebagai Direktur Utama PLN, Dahlan Iskan mendapatkan alokasi gas dari Menteri EDSM. Prestasi yang luar biasa mengingat Dirut PLN yang lama 6 tahun berjuang keras untuk mendapatkan alokasi pasokanngas dari pemerintah namun gagal total. Kebutuhan gas untuk pembangkit PLN itu sangat vital. PLN sedang proses pengalihan besar-besaran pembangkit BBM ke BBG dan BBBB (batubara). Ditengah-tengah harga BBM yang sangat tinggi, PLTD (solar) yang dominan di PLN menyebabkan biaya produksi listrik PLN jadi sangat mahal.

Namun program pembangkit dari BBM ke gas ini gagal dan kemudian hari (sekarang) menjadi penyebab utama inefisiensi PLN sesuai audit BPK. PLN dalam hal ini Dirut PLN Dahlan Iskan dituduh ceroboh dan menyimpang yang mengakibatkan negara rugi Rp. 37.6 triliun plus 4 triliun dalam penyewaan genset untuk pembangkit listrik. 
Dahlan Iskan dituduh korupsi dan inefisiensi gila-gilaan di PLN sehingga rugikan negara total sebesar Rp. 41.6 triliun sesuai temuan audit BPK RI. Dalam memenuhi kebutuhan Gas untuk pembangkit-pembangkitnya, PLN membuat kontrak pengadaan gas dengan BP Migas. Namun, pada realisasinya, BP migas tidak memenuhi semua kewajibannya sesuai kontrak ke PLN. Sesuai dengan ketentuan tata niaga gas, BP migas mempunyai kewajiban lain yang lebih utama/prioritas sesuai perintah UU/peraturan. Urutan prioritas BP Migas itu adalah : kontrak ekspor, industri pupuk, listrik dan komersial/industri swasta.

Dengan dalih tunduk pada tata niaga gas itu, BP Migas mengingkari kewajibannya pasok gas ke PLN. Sayangnya atau celakanya, dalam hal kontrak PLN - BP Migas, PLN alpa/lalai mencantumkan sanksi ke BP Migas jika BP Migas wanprestasi. Celakanya lagi, Dahlan Iskan sebagai Dirut PLN terkenal ceroboh, sembrono dan suka nabrak aturan tanpa pelajari UU / peraturan yang ada. Mungkin karena tekanan publik/konsumen, ingin dipuji sebagai CEO / Dirut PLN yang berhasil dan demi pencitraan dirinya, Dahlan Iskan melakukan pelanggaran-pelanggaran fatal yang menyebabkan kerugian negara yang luar biasa besar.

Dahlan Iskan secara sembrono ganti kebutuhan gas pembangkit PLN dengan BBM (bahan bakar minyak). Biaya produksi dari Rp. 700 / kwh membengkak jadi sekitar Rp. 2000/kwh. Untuk daerah-daerah yang tidak mempunyai PLTD disamping PLTU dan PLTG, Dahlan Iskan menyewa genset untuk pasokan listriknya. Hasilnya listrik memang menyala kembali, konsumen senang, Dahlan Iskan senang namun PLN, negara dan rakyat Indonesia mengalami kerugian besar. Kerugian itu membesar karena Dahlan Iskan demi pencitraan dirinya menargetkan pemasangan 1 juta sambungan listrik baru meski supply listrik tidak ada dan harus dipenuhi dengan menyewa genset berbahan bakar minyak yang sangat boros itu.

Solusi Dahlan Iskan itu adalah solusi temporer, instan, partial dan semu (artifisial). Namun Dahlan Iskan tak peduli. Dia menikmati puja -puji sebagai CEO PLN yang berhasil. Modal besarnya untuk dapat promosikan oleh SBY. Prestasi semu Dahlan Iskan di PLN ini ditutupi oleh pencitraan diri yang luar biasa, masif, berskala besar dan kontinyu. Menggunakan semua jaringan media nasional termasuk Jawa Pos Grup.

Berbagai media, seperti detik (online), TEMPO (majalah) dan banyak koran termasuk jaringan jawa pos grup terbukti efektif membangun pencitraan diri Dahlan Iskan. Agenda -agenda pribadinya seperti peluncuran berbagai buku tentang Dahlan Iskan pun menjadi pelengkap strategi pencitraan dirinya. Semua buku biografinya bercerita tentang kisah sukses dan sisi humanisnya. (bersambung)

No comments:

Post a Comment