Friday, April 19, 2013

Tanaman Padi Dalam Pot (Parepot)

Kompas | Senin, 12 Januari 2009 | 14:16 WIB

KETIKA petani lainnya sibuk berburu benih unggul padi hibrida saat musim tanam tiba, Ito Sumitro (53) justru menempuh cara berbeda. Ia memilih padi lokal yang kemudian ia silangkan menjadi varietas unggul.

Hasil kerja Ito, dipamerkan pada pertemuan kelompok tani se-Jabar di Desa Talagasari, Kecamatan Kawali, Ciamis, belum lama ini. Saat itu Ito memboyong tanaman padi dalam pot (parepot) hasil persilangannya pada setiap musim tanam (MT).

"Ini hasil kawin silang turunan kedelapan dari padi Jalawara dan padi gundul atau sriputih. Keduanya jenis padi lokal Indramayu," kata ayah empat anak yang kini tinggal di Dusun Kalensari RT 01 RW 01, Desa Kalensari, Kecamatan Widasari ini.

Suami dari Ny Jamilah ini lantas bercerita, varietas unggulan turunan kedelapan atau biasa dikenal dengan F-8 itu tak didapatkannya dengan mudah. Itu hasil kerja kerasnya selama lima tahun. "Hasil dari 54 kali persilangan pada 10 kali musim tanam di tiga petak sawah seluas 500 tumbak di Dusun Kalensari," kata jebolan SMP ini.

Ito mengaku, bulir padi hasil setiap persilangan tersebut disimpannya secara khusus dalam bungkus plastik yang diberi etiket.

"Hasil F-8 ini cukup menggembirakan. Panjang malainya sampai 52 sentimeter dengan jumlah bulir padi per malai mencapai 702 butir. Ini bulir padi yang paling banyak yang pernah saya temukan selama menjadi petani. Usia tanamnya 100 hari, lebih pendek dari usia padi normalnya yakni 115 hari. Keunggulan lainnya, padi ini tidak terlalu banyak membutuhkan air," papar Ito bangga.

Ito berharap, varietas hasil kawin silang yang dilakukannya selama 10 musim tanam tersebut bisa segera dipatenkan dan diluncurkan sebagai varietas unggul murni lokal.

"Kalau sudah memenuhi syarat, mudah-mudahan bisa digunakan sebagai varietas unggul nasional. Biasanya namanya mengambil nama sungai, seperti padi varietas Ciherang, Cisadane, dan sebagainya," imbuh Ito.

Lantas, kenapa Ito begitu ngotot melakukan perkawinan silang antarpadi varietas lokal saat petani lainnya justru tidak peduli tentang hal tersebut?

Jawabannya ternyata sederhana. Sebagai petani yang ndeso, Ito pernah kecewa. "Saya dan sejumlah petani lain di Desa Kalensari pernah punya pengalaman buruk beli benih berlabel biru yang katanya sudah bersertifikat. Ternyata benih berlabel itu ketika ditanam, tumbuhnya macam-macam. Ada padi IR, ada padi lokal, ada padi beras merah. Pokoknya macam-macam. Padahal katanya itu benih bersertifikat," ujarnya.

Akhirnya, Ito yang saat itu aktif di kelompok tani di Dusun Kalensari dan Ikatan Petani Pengamat Hama Tanaman Indonesia (IPPHTI) di desanya itu pun banting setir. "Saya bukan hanya meninggalkan benih padi berlabel, tapi juga bertekad untuk menemukan jenis padi yang unggul dari varietas lokal yang hasilnya murni lokal," tegas Ito seraya mengaku bahwa pengetahuannya tentang penyerbukan ia dapatkan dari sekolah lapangan singkat di bawah bimbingan Dr Buang dari Balitbang Padi Sukamandi Subang.

"Berikutnya saya kerap diundang ke berbagai pameran, mengikuti pelatihan maupun kursus serta seminar. Termasuk kursus selama 4 hari di IPB pada tanggal 7 sampai 10 Juli 2007 lalu. Selesai kursus selama 4 hari di sekolah lapangan IPB tersebut saya mendapat sertifikat sebagai pemulia," kata Ito sembari memperlihatkan selembar sertifikat mirip ijazah sarjana yang ditandatangani oleh Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB Prof Dr Ir Bambang Sapto Purwoko MSc.

Di Indonesia kini hanya ada 6 orang yang punya sertifikat sebagai pemulia varietas padi. Dua orang berasal dari petani, sementara empat lainnya dari balai penelitian dan perguruan tinggi. "Petani lain yang jadi pemulia itu adalah Pak Warsiah. Ia rekan saya di Dusun Kalensari."


Berburu hingga Kenekes

MESKI hanya tamatan SMP, dalam ilmu perpadian, Ito Sumitro memang sudah pakar. Keahliannya mungkin setara dengan tamatan S-3 setingkat doktor.

Ito memang sosok petani tulen, kulitnya legam karena hampir setiap hari tersengat panas terik matahari ketika turun ke sawah. Orang tua Ito dulunya memang pegawai PJKA, tetapi sehari-harinya juga petani.

"Sekarang, murid-murid saya sudah banyak. Sekarang ada 500 petani yang mengikuti langkah saya," ujar Ito.

Ito mengaku, dengan profesinya sebagai pemulia, ia kerap berburu plasma nutfah ke berbagai daerah. Ia melakukan secara khusus atau sembari mengikuti kegiatan lainnya. Bahkan, ketika mengikuti kegiatan di Aceh, Ito pun sempat mendapat oleh-oleh benih padi lokal dari Tanah Rencong tersebut.

Ito mengaku, pernah sengaja datang ke Kanekes Banten untuk mendapatkan benih padi huma yang jadi andalan suku Baduy. "Di Banten, saya mendapatkan benih padi ketan item yang bagus. Ini juga akan saya kembangkan," tambahnya.

Setelah dilakukan percobaan di Indramayu, menurut Ito, padi ketan item asal Baduy tersebut tumbuh dengan baik dan hasil bagus. "Keunggulan lainnya, padi ketan item dari Baduy ini tahan kekurangan air".

Ia yakin, di kawasan adat lainnya seperti di Kampung Naga Tasikmalaya maupun Kampung Kuta di Ciamis masih tersimpan benih padi varietas setempat yang perlu ditelusuri keunggulannya, baik menyangkut hasil bulir, daya tahan, dan usianya sampai panen.

"Padi itu bukan tanaman air. Makanya jangan heran ada padi huma yang tumbuh subur di bukit-bukit tanpa pengairan. Kini sistem tanam padi dalam pot juga semakin berkembang. Jadi bertanam padi tak lagi harus di sawah, di halaman rumah pun bisa," ujar Ito yang oleh Dinas Pertanian Indramayu kini dipercaya mengelola lab pertanian di Kebulen.

"Di sana saya tak lagi cuma menyilangkan padi, tapi juga sayuran lokal seperti emes, timun, paria, hingga jamur." (andri m dani)*

Sumber : TRIBUN JABAR
Farmers Initiatives for Ecological Livelihoods and Democracy

Komentar Nurman Ihsan, SP ( THL TBPP DEPTAN di BANTEN ):

Pertama, Institusi pendidikan ternyata bukan satu-satu sarana belajar. Bahkan bila seseorang atau sekelopok orang diajarkan dengan seorang yang pakar seperti DR. Buang Abdullah ( Pemulia BB Padi ) maka kemudian mereka langsung menjadi pelaku utama maka bisa menghasilkan pakar pemulia tanaman.
Kalau di Indonesia yang punya sertifikat cuma 6 insan, 2 diantaraya adalah hasil didikan di luar institusi pendidikan formal. Kemana para sarjana pertanian, lulusan S-2 dan S-3 yang telah didik oleh institusi pendidikan kita. Padahal mereka telah bertahun-tahun kuliah dan menghabiskan banyak dana dan waktu?
Dan yang luar biasa adalah bila Pak Ito dan Pak Warsiah bisa menciptakan atau mencetak para petani lain agar bisa menjadi pemulia tanaman.
“Sekarang, murid-murid saya sudah banyak. Sekarang ada 500 petani yang mengikuti langkah saya,” ujar Ito.
Dan bila, 500 petani ini bisa sukses. Saran saya mereka-mereka ini disebar di seluruh provinsi di Indonesia buat mengajar petani lain. Atau mengajar para THL seperti saya dan yang lainnya supaya bisa jadi Pemulia Tanaman. Mereka-mereka ini digaji khusus oleh negara sebab mereka adalah para pakar dengan keahlian khusus.
Saya yakin, swasembada akan tercapai sebab mereka ahli di bidangnya

Kedua, Varietas padi yang dihasilkan Prof Ito adalah LUAR BIASA
Mengapa luar biasa? panjang malai sampai 52 cm dengan jumlah bulir 702 butir. Padahal padi bunda saja, setahu saya jumlah bulir dalam 1 malai  sekitar 400an butir. Tapi hasilnya bisa 20 ton/ha. Lha ini karya Pak Ito, yang 1 malai bisa 702 butir, berapa hasilnya? tapi dia tak pernah mengklaim bisa mencapai 20-40 ton/ha.

Ketiga, Mengapa para petani yang suka dengan hasil panen padi yang tinggi tidak berburu benih Prof Ito. Padahal jelas-jelas benih ini menghasilkan jumlah malai yang panjang dan jumlah  bulir yang banyak. Saya kira pola dan jumlah pupuknya pun biasa saja. Kenapa mereka lebih senang berburu dan memakai benih bunda, walaupun jelas-jelas padi ini pakai pupuk yang sangat2 rakus unsur hara.

Keempat, Insan-insan seperti mereka harusnya mendapat penghargaan khusus dari pemerintah.



3 comments:

  1. Mau bertanya apa nama benihnya... dah bagai mana cara mendapatkannya
    Saya tertarik dengan benih padi ini
    Apa bisa saya membudidayakannya di daerah saya

    ReplyDelete
  2. Mau bertanya apa nama benihnya... dah bagai mana cara mendapatkannya
    Saya tertarik dengan benih padi ini
    Apa bisa saya membudidayakannya di daerah saya

    ReplyDelete
  3. bibit yang menghasilkan malai 700 lbh yg ditemukak pak itoh

    ReplyDelete